Penulis: Yudas Degei
Mahasiswa — Sekolah Tinggi Katolik Touye Paapaa Deiyai
Musim kemarau sedang berjalan, dan kebakaran hutan serta rawa- rawa kini berkobar di mana-mana di tanah Papua.
Asap mengepul, api merambat cepat, dan apa yang terbakar bukan sekadar rumput atau pohon — melainkan jantung kehidupan kita sendiri.
Papua adalah salah satu paru-paru dunia yang tersisa. Hutan-hutannya menyimpan kekayaan hayati yang tak ternilai. Rawa-rawa gambutnya menahan air ribuan tahun, menjaga iklim sejuk, dan menyimpan karbon yang jika terlepas memperburuk cuaca.
Namun kini, di tengah kemarau yang makin panjang dan panas, semuanya terbakar luas — dan sebagian besar kerusakan terjadi karena perbuatan kita sendiri.
Banyak orang berpikir: “Saya membakar sepotong lahan saja, tidak merusak apa-apa.” Itu salah besar. Satu api yang dibiarkan menyala dengan cepat merambat ke hutan, rawa, dan tempat yang tak disangka. Lalu kita bertanya mengapa udara makin panas, sungai makin dangkal, sumber pangan makin sulit dicari. Jawabannya: kita yang merusaknya.
HAL- HAL YANG TIDAK BOLEH LAGI KITA LAKUKAN
Jangan lagi membakar lahan untuk membuka kebun
Membakar terlihat mudah, tetapi kerusakannya tidak terukur. Api bisa lari ke hutan, rawa, dan lahan tetangga. Zaman sudah berubah — hutan makin sempit, rawa makin tipis, udara makin kering. Apa yang dulu boleh dilakukan, kini sudah tidak boleh lagi.
Gantinya: Buka lahan dengan menebas dan membersihkan secara perlahan tanpa api. Lebih berat, tetapi tidak merusak tanah dan tidak membahayakan lingkungan.
Jangan lagi mengeringkan rawa- rawa dan lahan gambut
Rawa bukan sekadar tanah becek. Ia menahan air saat hujan, melepaskannya saat kemarau, menjaga tanah tetap hidup. Jika dikeringkan, tanah menjadi debu yang mudah terbakar, dan api di dalamnya sulit padam bahkan saat hujan turun. Rawa yang rusak butuh ratusan tahun pulih — kita tidak punya waktu selama itu.
Gantinya: Jaga rawa tetap berair. Tanami pinggirannya tanpa menguras airnya. Biarkan rawa hidup, karena itulah ia memberi manfaat terbesar.
Jangan lagi membiarkan api menyala tanpa pengawasan
Membakar sampah lalu pergi, menyalakan api unggun tanpa memadamkan, membiarkan sisa api menjalar — sekecil apa pun, di musim kemarau adalah bahaya besar. Angin bisa berubah arah, dalam hitungan menit menjadi kebakaran tak terkendali.
Gantinya: Jika harus menyalakan api, jaga terus sampai benar- benar padam. Siram dengan air, tutup tanah, pastikan tidak ada yang menyala lagi sebelum pergi.
Jangan lagi berpikir “bukan urusan saya”
Asap tidak punya batas wilayah. Kerusakan di satu tempat adalah luka bagi kita semua. Hutan gundul di tempat lain mengubah hujan di tempat kita.
Gantinya: Peduli di mana pun api terlihat. Ingatkan kerabat dan tetangga. Jika melihat api, segera laporkan atau bantu padamkan. Ini tanah kita bersama.
Jangan lagi merusak hutan di tepi sungai dan bukit
Pohon di sana menahan tanah dan air. Jika habis, banjir dan longsor akan datang menimpa kebun, rumah, dan nyawa kita sendiri.
Lindungi hutan di tepi sungai dan bukit. Biarkan pohon tumbuh — merekalah benteng yang menjaga kita.
Jika Kita Tetap Melakukannya
Jika tidak berhenti, sebentar lagi: udara makin panas dan tidak sehat, anak-anak jatuh sakit; sumber pangan makin sedikit, sungai makin dangkal; tanah menjadi tandus dan rapuh; dan yang paling penting — warisan untuk anak cucu hilang. Mereka berhak mendapat tanah yang hijau, sejuk, dan memberi kehidupan.
Mari Berubah Sekarang
Tuhan menitipkan tanah Papua kepada kita bukan untuk dihancurkan, melainkan dijaga dan diserahkan dalam keadaan baik kepada generasi berikut. Kita adalah penjaga, bukan pemilik mutlak.
Maka berhentilah membakar lahan mulai hari ini. Jagalah rawa dan sisa hutan yang masih ada. Ingatkan satu sama lain dengan lembut namun teguh. Tanam kembali apa yang sudah gundul — setiap pohon yang tumbuh adalah harapan baru.
Jangan tunggu sampai hutan habis, sampai sungai kering, sampai tanah tak lagi memberi kehidupan. Saatnya berubah adalah sekarang.
Tanah Papua bukan milik kita semata — ia ibu yang memberi makan, tempat berlindung, warisan yang harus dijaga segenap hati. Jika ia terjaga, kita semua sejahtera. Semoga kita diberi kesadaran dan kekuatan untuk menjaga rumah kita sendiri.
Demikian tulisan ini saya sampaikan*

